Penerbit
 
Buku Pilihan
201 Tanya Jawab Syi'ah 201 Tanya Jawab Syi'ah
Rp33.000 Rp28.050
Diskon : 15%
76 Dosa Besar yang Dianggap Biasa -SC 76 Dosa Besar yang Dianggap Biasa -SC
Rp38.000 Rp30.400
Diskon : 20%
Al Bidayah wa An-Nihayah 22 jld Lengkap Al Bidayah wa An-Nihayah 22 jld Lengkap
Rp4.018.000
Boleh Gak Sih Ngarep? Boleh Gak Sih Ngarep?
Rp76.000 Rp60.800
Diskon : 20%
Ensiklopedia Anak Muslim (lengkap 12 Jilid) Ensiklopedia Anak Muslim (lengkap 12 Jilid)
Rp1.140.000 Rp912.000
Diskon : 20%
 
Qu2buku Links
 
Belanjaan Anda
0 unit
 
Buku Baru
The Perfect Muslimah The Perfect Muslimah
Rp86.500 Rp73.525
Diskon : 15%
Surga Yang Tak Dirindukan Surga Yang Tak Dirindukan
Rp59.000 Rp50.150
Diskon : 15%
Tafsir Al-Munir Jilid 6 Tafsir Al-Munir Jilid 6
Rp173.000 Rp147.050
Diskon : 15%
Panduan Zakat Bersama Dr. KH. Didin Hafidhuddin Panduan Zakat Bersama Dr. KH. Didin Hafidhuddin
Rp17.000
Anak-Anak Merapi 2 Anak-Anak Merapi 2
Rp40.000 Rp34.000
Diskon : 15%
Anak-Anak Merapi Anak-Anak Merapi
Rp40.000 Rp34.000
Diskon : 15%
Tasawuf Modern Tasawuf Modern
Rp63.000 Rp53.550
Diskon : 15%
Falsafah Hidup Falsafah Hidup
Rp79.000 Rp67.150
Diskon : 15%
Arabic for kids PAKET 1-6 Arabic for kids PAKET 1-6
Rp390.000 Rp292.500
Diskon : 25%
ARASY CINTA ARASY CINTA
Rp49.000 Rp41.650
Diskon : 15%
 
Perlu Bantuan


Yahoo! ID : my_qu

Skype : Qu2 Buku



TRANSFER BANK


BSM

No Rek : 7017544618

Atas Nama Mulyati


BNI Syariah

No Rek : 0368716527

Atas Nama Mulyati


No Rek : 8690801982

Atas Nama Mulyati



Qu2buku.com Qu2buku.com
 

Rumah Tanpa Jendela

Rumah Tanpa Jendela
Klik untuk memperbesar
Harga : Rp68.000
Diskon : Tidak ada Diskon
Stok :   Kosong  
Pengarang : Asma Nadia, Aditya Gumay, Adenin Adlan
Penerbit : Lain-Lain
Rating Rata-rata: Not Rated
Berat: 1.00 Kilogram

Rumah Tanpa Jendela


Alhamdulillah novel terbaru saya telah terbit: Rumah Tanpa Jendela (RTJ). Setelah 2007 menyelesaikan Istana Kedua yang diterbitkan GPU saya belum menulis novel lagi, hingga selesainya naskah novel Rumah Tanpa Jendela persis 1 Januari lalu, naskah novel ini kemudian diterbitkan Penerbit Kompas.

Ada apa di novelnya?

Kalau ada sesuatu yang baru bagi saya, adalah… saya bersyukur menulis novel Rumah Tapa Jendela ini dalam kondisi sekarang. Artinya sdh berkeluarga, memiliki anak… hingga mengerti betapa besar keinginan setiap orang tua untuk mewujudkan mimpi anak-anak. Bagaimana mereka yang telah berkeluarga tidak hanya memahat mimpi bagi mereka sendiri, namun juga mimpi anak-anaknya.

 

Berpikir tentang fananya kehidupan, saya bersyukur menulis novel yang dikembangkan dari cerpen berjudul Jendela Rara (dimuat di buku kumcer Emak Ingin Naik Haji, 12 cerpen pilihan). Karena pada lembaran-lembaran lebih dari 130 halaman ini, banyak ruang bagi saya untuk bicara tentang rapuhnya usia. Tentang mempersiapkan tidak hanya diri sendiri untuk menghadapNya, satu kepastian dalam hidup, yang kita sering lupa. Dan ketika ingat, kita sering berpikir untuk mempersiapkan diri, dengan memperbanyak bekal jika saat itu tiba nanti. Lupa bahwa sebagai orang tua pun kita harus mempersiapkan mereka, para buah hati itu agar tumbuh menjadi manusia yang memiliki ketegaran dan kesiapan untuk bangkit, betapa pun tragedi dan ujian hidup bertubi-tubi menghampiri dan berupaya mematahkan semangat.

Betapa impian dan keberanian untuk mempertahankannya, betapa kepercayaan untuk menyandarkan harapan kepadaNya adalah hal lain yang harus ditumbuhkan dari sekarang untuk anak-anak dan orang-orang tercinta. Hingga jika kematian datang, semoga sebagian pr sebagai orang tua itu telah kita tunaikan. Dan ananda akan tumbuh menyongsong masa depan mereka, dengan percaya bahwa harapan dan impian itu tetap ada. Bahwa mereka bisa berpegang pada janji Allah… Inna ma’al usri yusro…

Sesungguhnya kegelapan yang terasa mengungungkung saat kesulitan hidup luar biasa kita terima, sebenarnya ada titik-titik cahayaNya yang disertakan, kemudahan yang membuat kita bisa melihat betapapun, ada lebih banyak hal untuk disyukuri. Kesadaran yang semoga menguatkan langkah untuk melanjutkan hidup, meski orang-orang tercinta telah pergi.

Dan saya bersyukur, menerima tantangan menulis novel ini, setelah sebelumnya menolak permintaan Mas Aditya Gumay (sutradara Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela), untuk menulis novelnya, sebelum filmnya terbit, mengingat singkatnya waktu. Dan meski ada cara mudah mengalihkan skenario ke film, dengan tinggal memindahkan adegan2 visual menjadi narasi2 novel, saya tidak bisa memilih cara ini. Menulis bagi saya hal yang pribadi, dan benar-benar pekerjaan hati. Lama saya termenung di depan layar yang masih putih bersih hanya untuk memikirkan, akan memulai dari mana. Bagaimana menghadirkan kisah ini agar penonton filmnya tetap menemukan kebahagiaan dan sesuatu yang berbeda saat membaca novelnya. Dan ini tantangan lain.

Bagaimanapun sungguh saya bersyukur sebab akhirnya saya bisa menulis sesuatu yang pada prosesnya memberikan kesadaran dan menggugah saya pribadi, akan begitu banyak hal yang belum saya siapkan bagi anak-anak.

Novel Rumah Tanpa Jendela semoga menjadi sebuah karya yang walaupun sederhana tetapi inspiratif. Mengajak bangkit mereka yang terpuruk. Mengajak berbesar hati mereka yang kehilangan. Mengajak kita melihat juga potret sosial di tanah air. Selain, meluruskan keikhlasan untuk menerima semua pemberian Allah, sebagai sebuah anugerah, bagaimanapun kondisinya.

Tulis Review
Nama :


Review anda : Catatan : HTML is not translated!

Rating : Jelek            Bagus

Masukan Kode dibawah ini:

Tidak ada gambar tambahan untuk produk ini.