Penerbit
 
Qu2buku Links
 
Belanjaan Anda
0 unit
 
Buku Baru
99 Hadits Istimewa Untuk Anak 99 Hadits Istimewa Untuk Anak
Rp120.000 Rp96.000
Diskon : 20%
Al-Mughni Al-Mughni
Rp104.000 Rp83.200
Diskon : 20%
Menikah Memuliakan Sunnah Menikah Memuliakan Sunnah
Rp32.000 Rp25.600
Diskon : 20%
Anda Bertanya Islam Menjawab Anda Bertanya Islam Menjawab
Rp75.000 Rp60.000
Diskon : 20%
Al-Wafi Al-Wafi
Rp95.000 Rp76.000
Diskon : 20%
My First Al-Qur'an My First Al-Qur'an
Rp329.000 Rp263.200
Diskon : 20%
Fiqih Tamkin Fiqih Tamkin
Rp75.000 Rp60.000
Diskon : 20%
Kreasi Asyik Muslim Cilik Kreasi Asyik Muslim Cilik
Rp50.000 Rp40.000
Diskon : 20%
50 Pendakwah Pengubah Sejarah 50 Pendakwah Pengubah Sejarah
Rp54.000 Rp43.200
Diskon : 20%
The Great Power of Mother The Great Power of Mother
Rp40.000 Rp32.000
Diskon : 20%
 
Perlu Bantuan


Yahoo! ID : my_qu

Skype : Qu2 Buku



TRANSFER BANK


BSM

No Rek : 7017544618

Atas Nama Mulyati


BNI Syariah

No Rek : 0368716527

Atas Nama Mulyati


No Rek : 8690801982

Atas Nama Mulyati



Qu2buku.com Qu2buku.com
 

Rumah Tanpa Jendela

Rumah Tanpa Jendela
Klik untuk memperbesar
Harga : Rp68.000
Diskon : Tidak ada Diskon
Stok :   Kosong  
Pengarang : Asma Nadia, Aditya Gumay, Adenin Adlan
Penerbit : Lain-Lain
Rating Rata-rata: Not Rated
Berat: 1.00 Kilogram

Rumah Tanpa Jendela


Alhamdulillah novel terbaru saya telah terbit: Rumah Tanpa Jendela (RTJ). Setelah 2007 menyelesaikan Istana Kedua yang diterbitkan GPU saya belum menulis novel lagi, hingga selesainya naskah novel Rumah Tanpa Jendela persis 1 Januari lalu, naskah novel ini kemudian diterbitkan Penerbit Kompas.

Ada apa di novelnya?

Kalau ada sesuatu yang baru bagi saya, adalah… saya bersyukur menulis novel Rumah Tapa Jendela ini dalam kondisi sekarang. Artinya sdh berkeluarga, memiliki anak… hingga mengerti betapa besar keinginan setiap orang tua untuk mewujudkan mimpi anak-anak. Bagaimana mereka yang telah berkeluarga tidak hanya memahat mimpi bagi mereka sendiri, namun juga mimpi anak-anaknya.

 

Berpikir tentang fananya kehidupan, saya bersyukur menulis novel yang dikembangkan dari cerpen berjudul Jendela Rara (dimuat di buku kumcer Emak Ingin Naik Haji, 12 cerpen pilihan). Karena pada lembaran-lembaran lebih dari 130 halaman ini, banyak ruang bagi saya untuk bicara tentang rapuhnya usia. Tentang mempersiapkan tidak hanya diri sendiri untuk menghadapNya, satu kepastian dalam hidup, yang kita sering lupa. Dan ketika ingat, kita sering berpikir untuk mempersiapkan diri, dengan memperbanyak bekal jika saat itu tiba nanti. Lupa bahwa sebagai orang tua pun kita harus mempersiapkan mereka, para buah hati itu agar tumbuh menjadi manusia yang memiliki ketegaran dan kesiapan untuk bangkit, betapa pun tragedi dan ujian hidup bertubi-tubi menghampiri dan berupaya mematahkan semangat.

Betapa impian dan keberanian untuk mempertahankannya, betapa kepercayaan untuk menyandarkan harapan kepadaNya adalah hal lain yang harus ditumbuhkan dari sekarang untuk anak-anak dan orang-orang tercinta. Hingga jika kematian datang, semoga sebagian pr sebagai orang tua itu telah kita tunaikan. Dan ananda akan tumbuh menyongsong masa depan mereka, dengan percaya bahwa harapan dan impian itu tetap ada. Bahwa mereka bisa berpegang pada janji Allah… Inna ma’al usri yusro…

Sesungguhnya kegelapan yang terasa mengungungkung saat kesulitan hidup luar biasa kita terima, sebenarnya ada titik-titik cahayaNya yang disertakan, kemudahan yang membuat kita bisa melihat betapapun, ada lebih banyak hal untuk disyukuri. Kesadaran yang semoga menguatkan langkah untuk melanjutkan hidup, meski orang-orang tercinta telah pergi.

Dan saya bersyukur, menerima tantangan menulis novel ini, setelah sebelumnya menolak permintaan Mas Aditya Gumay (sutradara Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela), untuk menulis novelnya, sebelum filmnya terbit, mengingat singkatnya waktu. Dan meski ada cara mudah mengalihkan skenario ke film, dengan tinggal memindahkan adegan2 visual menjadi narasi2 novel, saya tidak bisa memilih cara ini. Menulis bagi saya hal yang pribadi, dan benar-benar pekerjaan hati. Lama saya termenung di depan layar yang masih putih bersih hanya untuk memikirkan, akan memulai dari mana. Bagaimana menghadirkan kisah ini agar penonton filmnya tetap menemukan kebahagiaan dan sesuatu yang berbeda saat membaca novelnya. Dan ini tantangan lain.

Bagaimanapun sungguh saya bersyukur sebab akhirnya saya bisa menulis sesuatu yang pada prosesnya memberikan kesadaran dan menggugah saya pribadi, akan begitu banyak hal yang belum saya siapkan bagi anak-anak.

Novel Rumah Tanpa Jendela semoga menjadi sebuah karya yang walaupun sederhana tetapi inspiratif. Mengajak bangkit mereka yang terpuruk. Mengajak berbesar hati mereka yang kehilangan. Mengajak kita melihat juga potret sosial di tanah air. Selain, meluruskan keikhlasan untuk menerima semua pemberian Allah, sebagai sebuah anugerah, bagaimanapun kondisinya.

Tulis Review
Nama :


Review anda : Catatan : HTML is not translated!

Rating : Jelek            Bagus

Masukan Kode dibawah ini:

Tidak ada gambar tambahan untuk produk ini.